Sekolah-sekolah di Inggris Memperkenalkan Mata Pelajaran Baru: Mindfulness

Siswa di Inggris sudah belajar tentang matematika, sains, dan sejarah, tetapi ratusan sekolah sedang bersiap untuk mengembangkan kurikulum tradisional dengan mata pelajaran baru yaitu mindfulness.
Di 370 sekolah yang ada di Inggris, siswa akan mulai berlatih mindfulness sebagai bagian dari mata pelajaran untuk meningkatkan kesehatan mental remaja.

Mereka akan bekerja dengan para ahli kesehatan mental untuk mempelajari teknik relaksasi, latihan pernapasan dan metode lain untuk membantu mereka mengatur emosi mereka. Tujuan dari program ini adalah untuk mempelajari pendekatan mana yang paling baik bagi kaum muda di dunia yang mengalami perubahan yang begitu cepat. Studi ini dilakukan hingga tahun 2021.

Para siswa akan mulai diperkenalkan secara bertahap pada masalah-masalah seputar kesehatan mental, kesejahteraan dan kebahagiaan sejak awal sekolah dasar. Inisiatif ini datang berbulan-bulan setelah survei yang dilakukan oleh National Health Service menemukan bahwa satu dari delapan anak di Inggris antara usia 5 dan 19 menderita setidaknya satu gangguan mental.

Survei yang diterbitkan itu juga menunjukkan sedikit peningkatan gangguan mental pada anak berusia lima hingga 15 tahun yang naik menjadi 11,2 persen pada tahun 2017 dari 9,7 persen pada  tahun 1999. Gangguan seperti kecemasan dan depresi adalah yang paling umum yang mempengaruhi satu dari 12 anak-anak dan remaja awal pada tahun 2017. Gangguan ini lebih sering muncul pada anak perempuan. Hal ini disebut  sebagai “krisis kesehatan mental anak-anak.”

Setiap hari  anak-anak dan remaja berjuang untuk memahami bagaimana mereka masuk ke dalam dunia modern yang semakin kompleks – bersaing dengan hal-hal seperti tekanan kuat di sekolah, intimidasi atau masalah di rumah,  dan masih ditambah dengan tekanan dari media sosial.

Namun program Pemerintah Inggris ini dikritik oleh komite Parlemen karena dianggap program ini tidak memiliki sasaran yang jelas dan tidak akan dapat memberikan bantuan yang dibutuhkan kepada mayoritas anak-anak yang sangat membutuhkan. Komite Parlemen beranggapan pemerintah hanya berfokus pada penanganan masalah emosional daripada melakukan upaya pencegahannya. Upaya pencegahan dianggap sebagai  mata rantai yang hilang dalam membangun dukungan yang lebih baik untuk anak-anak dan remaja. Komite parlemen menemukan bahwa media sosial dan sistem ujian memberikan tekanan tinggi di sekolah dan berperan dalam memberikan efek negatif pada kesehatan mental anak-anak dan remaja.

Tetapi Dr. Jessica Deighton, seorang profesor di bidang kesehatan mental dan kesejahteraan anak di Universitas  London yang memimpin uji coba pemerintah, mengatakan bahwa inisiatif baru ini dimaksudkan untuk menawarkan lebih dari perbaikan cepat. Dia mengatakan bahwa ada kecenderungan untuk berpikir bahwa solusinya adalah intervensi kesehatan mental.  Dr. Jessica juga mengatakan bahwa program tersebut mencakup beberapa strategi, termasuk melatih guru, mengajarkan praktik relaksasi dan mengundang para profesional untuk diskusi kelompok.  Program ini bukan hanya untuk membuat mereka merasa lebih baik dalam jangka pendek, tetapi juga dalam jangka panjang.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *