Kehidupan Yang Bersahaja

Ketika Mennonite mulai pindah ke Belize pada akhir 1950-an, mereka melakukannya karena alasan yang sama dengan leluhur mereka yang telah bermigrasi selama berabad-abad untuk hidup selaras dengan kepercayaan agama mereka, termasuk pemisahan gereja dan negara, pasifisme tanpa campur tangan dari pemerintah, dengan teknologi terbatas dan dikelilingi oleh lahan pertanian.

Mennonite adalah sebuah sektarian tradisional Kristen, yang merupakan sayap Anabaptis Reformasi Protestan. Saat ini mereka berjumlah sekitar satu juta di seluruh dunia, dengan sebagian besar tinggal di bagian negara berkembang termasuk Paraguay, India dan Republik Demokratik Kongo.

Orang-orang di Belize, yang disebut Koloni Mennonit Tua, turun dari pemukim Chortitza yang merupakan koloni Mennonite paling awal di Kekaisaran Rusia. Nenek moyang mereka pindah dari Belanda, kemudian ke Kanada pada tahun 1870-an, Meksiko pada 1920-an dan beberapa dekade kemudian baru ke Belize.

Sebuah perjanjian dengan pemerintah negara itu memberikan keistimewaaan ideologis tertentu kepada mereka. Mereka mampu menegosiasikan pengecualian dari dinas militer dan memberikan izin untuk mendirikan sekolah swasta di mana pelajaran akan diajarkan dalam bahasa utama mereka, dialek Jerman Rendah yang disebut Plautdietsch.

Kelompok itu meninggalkan Meksiko pada pertengahan abad ke-20 terutama karena alasan iman. Tetapi cara hidup mereka menawarkan banyak hal bagi mereka yang tidak puas dengan realitas keberadaan kota yang sangat terhubung.

Kepercayaan Mennonite adalah bahwa orang Kristen hidup dunia tetapi tidak semata untuk itu”” telah menumbuhkan etos sektarian yang menghargai swasembada dan saling membantu dalam kelompok. Anak yang lebih besar merawat anak yang lebih kecil, tetangga saling membantu memperbaiki peralatan pertanian. Tujuannya adalah untuk hidup secara gotong-royong dan setenang mungkin.

Di Belize, Mennonite juga mengekspresikan diri melalui pakaian dan desain. Gaya pakaian polos yang mereka kenakan sangat diatur sangat ketat, meskipun lebih longgar bagi pria.

Perempuan, di sisi lain,membuat sebagian besar pakaian mereka sendiri dan diharapkan mengenakan penutup di kepala mereka setiap kali mereka berada di depan umum. Pergantian generasi dalam gaya berpakaian perlahan-lahan terjadi, dengan tekstil dicetak berwarna-warni cerah menggantikan warna solid muram.

Interaksi kelompok dengan teknologi juga dipengaruhi oleh etika komunitarian mereka. Sering diasumsikan bahwa orang-orang yang menolak teknologi melakukannya karena takut akan budaya konsumtif, tetapi pilihannya lebih banyak terkait dengan skeptisisme dan kepatuhan terhadap prinsip.

Misalnya, penolakan mereka terhadap mobil untuk penggunaan pribadi bukan karena mereka percaya kendaraan bermotor pada dasarnya buruk – mereka menggunakan traktor untuk bertani – tetapi lebih pada penekanan mereka pada pentingnya masyarakat. Jika seseorang memiliki akses ke mobil, ia akan tergoda untuk pergi, tetapi jika hanya perjalanan menggunakan kuda dan kereta yang terbatas jarak tempuhnya membuat permukiman Mennonite terkait erat.

Pada tahun 2018 ini beberapa Mennonite menggunakan ponsel cerdas untuk bisnis, dan kadang-kadang ponsel cerdas itu berakhir di tangan anak-anak mereka. Bahwa anggota komunitas-komunitas ini sekarang memiliki akses tak terbatas ke dunia luar di telapak tangan mereka berarti Mennonit Koloni Tua bisa berada di puncak perubahan besar.

Sudah ada tanda-tanda modernisasi lainnya, termasuk meningkatnya jumlah orang Mennonite – baik pria maupun wanita – yang dipekerjakan oleh bisnis dari luar (pabrik, misalnya) daripada memiliki pekerjaan tradisional, pertanian, pertukangan dan pekerjaan mekanik .

Bagi sebagian besar dari mereka, hidup masih sederhana. Tetapi apakah akan tetap seperti itu, hal ini masih tanda tanya dan belum terlihat.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *