Penyebab Perbedaan Tingkat Vaksinasi?

Perusahaan media sosial saat ini menghadapi peningkatan pengawasan terkait penyebaran sentimen anti-vaksin di tengah wabah campak di beberapa negara seperti Washington. Sebagai tanggapan, Facebook, YouTube dan Pinterest baru-baru ini menjadi berita utama dengan mengumumkan inisiatif untuk mengurangi kesalahan informasi vaksin pada platform mereka.

Tetapi fokus pada konten anti-vaksin di media sosial dapat mengaburkan faktor terpenting apakah anak-anak mendapatkan vaksinasi. Peraturan di negara bagian asal mereka, yang ditinjau kembali dalam debat legislatif di seluruh negeri yang telah menerima namun lebih sedikit mendapat perhatian.

Seorang remaja bersaksi di depan Kongres  bahwa ia mendapat vaksinasi yang bertentangan dengan ibunya, yang katanya mendapat pandangan anti-vaksinasi dari media sosial. Meskipun kesalahan informasi semacam ini dapat membahayakan kesehatan masyarakat, namun dapat menjelaskan bahwa media sosial secara substansial meningkatkan keragu-raguan terhadap vaksinasi. Meskipun pertumbuhan pesat proporsi orang Amerika yang menggunakan situs media sosial namun tingkat vaksinasi flu dan tingkat imunisasi bayi sebagian besar tetap stabil dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, kekhawatiran dan resistensi terhadap vaksinasi bukanlah hal baru.  Resistensi ini sudah ada sejak dari akhir abad ke-18, ketika vaksin pertama dikembangkan.

Media sosial mungkin hanya memberikan alasan baru untuk orang tua yang ragu-ragu yang akan mengutip alasan yang berbeda untuk keputusan mereka. Dengan kata lain, kita mungkin keliru memperlakukan apa yang sebagian besar merupakan gejala keragu-raguan vaksin sebagai penyebabnya. Sebuah contoh dari pola berulang di mana kita menyalahkan media sosial karena menyebabkan masalah.  Misalnya, internet dan media sosial sering disalahkan karena memicu polarisasi politik, tetapi kecenderungan polarisasi yang lebih besar jauh lebih dulu daripada media sosial.

Tampaknya masuk akal untuk mempertanyakan perusahaan media sosial memberi andil dalam memburuknya masalah global terkait keragu-raguan terhadap vaksin. Tetapi ancaman yang lebih mendesak di Amerika Serikat adalah kebijakan negara bagian yang membuat mudah untuk menghindari persyaratan imunisasi pada anak-anak yang masuk taman kanak-kanak.

Setelah wabah campak yang berasal dari Disneyland,  California menghilangkan pengecualian nonmedis dari persyaratan vaksinasi untuk masuk taman kanak-kanak dan memperketat persyaratan kepatuhan. Meskipun proses tersebut memicu kontroversi dan membutuhkan rancangan undang-undang untuk disetujui, tingkat vaksinasi meningkat setelahnya.

Perdebatan tentang masalah ini sedang terjadi sekarang di sejumlah negara. Sebagian besar berpusat pada usulan yang akan membatasi atau menghilangkan pengecualian nonmedis. Namun di luar sorotan nasional, beberapa negara mempertimbangkan proposal untuk memperluas pengecualian atau meningkatkan pandangan masyarakat didaerah pinggiran.

Legislatif Arizona, misalnya, mengesahkan RUU yang menciptakan pembebasan agama untuk boleh tidak memberikan vaksinasi (meskipun hampir tidak ada agama yang menentang vaksin). Informasi yang keliru semacam itu dapat memiliki pengaruh besar pada kesehatan masyarakat.

 

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *